Selasa, 19 November 2013

Movie Review: NOAH: Awal Semula

Movie Review: NOAH: Awal Semula

Wening Gitomartoyo
image
RollingStone – Jakarta, Dalam waktu satu tahun (Agustus 2012- September 2013), sudah terbit dua buku tentang NOAH. Satu dengan nama pengarang Ariel Uki Lukman Reza David yang bercerita tentang Peterpan sampai berganti nama jadi NOAH, dan satu lagi khusus bercerita tentang jerih payah melangsungkan konser di lima negara dalam satu hari. Lalu apa lagi yang bisa dikupas dari NOAH?

Kalau dikutip dari keterangan persnya, film NOAH: Awal Semula mengangkat kisah kebangkitan NOAH sebagai band dari keterpurukan, [serta] buah dari kerja keras dan kecintaan mereka terhadap musik. Berbentuk dokumenter, film karya sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy) ini cukup menyeluruh dalam hal menerangkan riwayat NOAH dari saat mereka bernama Peterpan, juga membuntuti NOAH yang di paruh terakhir 2012 aktif konser di sana-sini.

Dari awal, film dibuka dengan perasaan tegang; vokalis Ariel yang berlari dalam kawalan polisi dan pengaman yang sibuk menghardik, seperti menuju atau meninggalkan konser. Suasana resah ini terus berjalan, dijahit dari berbagai adegan sampai dengan akhir film. Ada saat-saat kelelahan karena pekerjaan, keyboardistDavid yang sempat sakit berat, seriusnya saat latihan, masalah teknis saat manggung, atau bagaimana Peterpan harus bersikap saat tiba-tiba Ariel mendapatkan masalah hukum.

Wawancara dengan semua anggota band menghadirkan jawaban-jawaban yang lumayan baru, atau belum pernah ada di medium lain. Ini terutama menyangkut saat-saat vakumnya Peterpan pada 2010 sampai 2012, serta keluarnya Andika dan Indra, mantan pemain keyboard dan bas Peterpan, yang juga diwawancara untuk film ini. Selain itu, wawancara dengan manajer band, manajer panggung, sampai ketua fanclub juga terasa relevan dan penting.

Sekali-sekali memang ada rasa humor atau kejadian menyenangkan, misalnya dari drummer Reza yang gemar bercanda atau bagaimana respons penggemar selalu menyala-nyala di tiap konser mereka. Namun fokus Awal Semula memang adalah bagaimana untuk bangkit lagi, tentang kesempatan kedua yang tidak disia-siakan. Semua pada akhirnya menuju pada titik pembuktian: apakah NOAH diterima oleh publik atau tidak.

Bagi mereka, pembuktian itu ada di konser “The Greatest Session of the History”, 2 November 2012, di Mata Elang International Stadium, Ancol, Jakarta. Konser ini menjadi puncak serangkaian pertunjukan NOAH setelah Konser Tanpa Nama (Mei 2012), konser 2 Benua 5 Negara dalam 1 Hari (September 2012), dan tur “Born to Make History” di delapan kota Indonesia (September - Oktober 2012).

Awal Semula adalah dokumenter yang cukup enak diikuti dan ditonton. Sayangnya, beberapa kali film terasa melompat-lompat antara satu kejadian ke kejadian lain tanpa pernah jelas kenapa, dan akhirnya jadi tak berbunyi. Tak adanya keterangan waktu pada rekaman konser atau wawancara juga bisa membuat bingung, terlebih karena film ini terlihat ingin membangun emosi sesuai alur waktu atau kronologi.

Namun film ini terasa jujur, terbuka, dan sarat inspirasi. Di situlah kita bisa lihat band sebesar NOAH yang ternyata pernah gugup menghadapi kemungkinan reaksi masyarakat saat mereka pertama tampil. Juga bagaimana mereka bekerja keras membalikkan situasi, dan terutama terus menolak untuk kalah pada keadaan.
Sumber: m.rollingstone.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar